Namaku Najika, 13 tahun. Sekarang aku dalam misi mencari hati yang baru. Kalian tahu maksudku kan? Iya, aku sedang mencari cowok lagi setelah patah hatiku (hiks. .kasihan banget kan aku?). Yah, mungkin harus aku jelaskan pada kalian, aku baru saja putus dengan pacarku, maksudku mantan pacarku. Aku sama sekali tidak dianggap olehnya, maka aku putuskan untuk mengakhirinya and the end.
Now, you can see. Sekarang aku berstatus sebagai jomblo. Dan petualangan baru akan segera dimulai.
^^^^^^^^^^^
Kriiiing. Bel istirahat sudah menjerit-jerit. Akhirnya aku bisa bernafas lega, pelajaran fisika benar-benar membuat otakku lelah. Perutku juga sudah berdemo sedari tadi.
“Rin, ke kantin yuk! Laper berat..” ajakku pada Karin, sahabat karibku.
“Yuk, aku juga laper,” ujarnya.
Kami berdua berjalan menuju kantin dengan terburu-buru. Perut kami sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Namun, saat kami sampai di tujuan, kami terbelalak.
“Sial! Rame banget, Rin! Kita gak bakal kebagian kalau yang antri sebanyak itu,” omel Najika.
“Yah, mau gimana lagi, beli minum aja deh kalau gitu. Daripada perut kosong melompong,” kata Karin pasrah. Aku hanya mengangguk saja, tak sanggup untuk mengomel lagi.
Setelah mendapatkan apa yang kami cari, kami segera menuju ke kelas. Tiba-tiba handphoneku bergetar.
“Siapa sih jam sekolah gini telepon?” gerutuku sambil mengeluarkan handphone dari saku seragam. Saat aku mengangkatnya, telepon langsung dimatikan oleh si penelepon.
“Ih! Siapa sih?! Usil banget!” omelku. Langsung saja aku kirim pesan ke nomor misterius itu.
“Siapa ni?”
Pesan balasan masuk.
“Daichi. Km siapa?”
Karena penasaran, aku berinisiatif untuk menyelidiki anak misterius itu. Aku bertanya pada Karin.
“Oh, Daichi. Iya aku tahu. Nanti aku kasih tahu anaknya yang mana kalau ketemu,” kata Karin. Kemudian aku mengirimkan pesan balasan pada Daichi.
“Najika”
Saat akan masuk kelas, tiba-tiba Karin berbisik.
“Itu tuh yang namanya Daichi,” katanya sambil melirikkan matanya ke arah seseorang.
“Ya ampun. Itu toh anaknya,” aku takjub.
Jujur saja, baru pertama kali ini aku bertemu cowok seperti dia. Unik. Itu kata yang pertama kali muncul di hatiku. Rasa penasaranku kini semakin menjadi-jadi.
^^^^^^^^^^^
Seperti biasa, aku selalu mendapat PR menumpuk dari guru-guruku. Benar-benar melelahkan. Sejenak aku berbaring di tempat tidur. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ada pesan masuk.
“Malem. Lagi ngapain?”
Aku terlonjak kaget. Dia lagi. Ada perlu apa ya sama aku? Tanpa bertanya-tanya lagi langsung saja aku balas pesannya.
“Belajar. Ada apa?”
“Aku ganggu gak?”
“BANGET”
“Kok gitu?”
“Biarin”
“SMS-an yuk!”
Entah, aku merasa sepertinya Daichi anak yang easy going . Maka aku mencoba menerima ajakannya.
“Oke deh”
Jadi begitulah, malam itu aku mengobrol via pesan dengan Daichi. Sedangkan PR-ku terbengong-bengong di atas meja.
^^^^^^^^^^^^^
Tinggal dua hari lagi liburanku habis. Sudah 1 minggu sekolahku libur. Senang rasanya, bisa pergi jalan-jalan bersama teman-teman. Oh ya, sekarang aku dan Daichi semakin akrab. Tiap malam kami mengobrol, saling curhat, sekali lagi via pesan. Kami sama sekali tidak pernah mengobrol secara langsung. Berbincang-bincang lewat telepon pun tidak pernah. Saat bertemu di sekolah, menyapa pun tidak. Hanya sekedar bertatap muka, saling melirik. Aku selalu tertawa sendiri kalau ingat kejadian itu.
Satu hal lagi, aku sekarang jatuh cinta sama seseorang. Yap, JATUH CINTA. Dan kalian tahu siapa? Benar, Daichi. Aku ulang sekali lagi. Aku jatuh cinta sama Daichi. Ternyata tidak butuh waktu yang lama untuk menemukan hati yang baru itu.
Dan malam itu aku sedang curhat dengannya.
“Kenapa ya, tiap kali aku ketemu dia, rasanya deg-degan?”
“Dia siapa?”
“Rahasia :P”
“Hm..mungin kamu jatuh cinta sama dia”
“Beneran? Wah, akhirnya aku menemukan yang baru”
“Aku juga ngrasain hal yang sama kayak kamu”
“Kamu jatuh cinta? Sama siapa?”
“Rahasia :P”
“Pelit!”
“Hehe. .nanti kalau udah masuk sekolah aku kasih tau”
Aku lemas. Ternyata Daichi sudah mempunyai ‘target’. Yah, apa boleh buat, toh gak mungkin juga aku maksain dia buat suka sama aku.
Maka aku akhiri acara curhat-curhatan itu. Aku tidak mau lagi mendengar pengakuan Daichi yang pasti akan lebih menyakitkan.
^^^^^^^^^^^
Aku benar-benar tidak sabar. Menunggu bel pulang yang tinggal 15 menit lagi terasa sangat lama. Kalian harus tahu, aku ada janji dengan Daichi untuk bertemu sepulang sekolah. Kalian ingat pengakuan Daichi kan? Yap, Daichi akan memberi tahu cewek yang disukainya. Sebelumnya aku sudah latihan mental dan latihan ekspresi muka untuk mempersiapan ini semua. Terdengar konyol memang, tapi pasti kalian akan mengerti, mendengarkan orang yang kita sukai membicarakan cewek yang disukainya di depan kita sungguh menyakitkan. Untuk itulah, aku sudah menyiapkan ‘bekal’ untuk berjaga-jaga kalau-kalau nanti aku mendengar hal yang sangat tidak enak didengar.
Kriiing.
“Yess!!” pekikku senang. Buru-buru kukemasi buku-bukuku.
“Mau kemana sih? Buru-buru amat,” tanya Karin penasaran.
“Aku ada janji sama Daichi, mau ketemu sekarang,” ujarku.
“Wow! Mangsa udah di tangan nih. Ya udah deh, moga sukses ya,” Karin menyuport tanpa tahu cerita sebenarnya. Aku sebal juga mendengarnya. Temannya yang lemah ini akan turun ke medan laga, bukannya dicegah, malah didukung.
Saat aku berjalan melewati koridor, aku melihat Daichi duduk di bangku bawah pohon. Saat dia melihatku, dia memberi isyarat agar aku mengikutinya. Dia berjalan menuju belakang sekolah.
Beberapa menit kemudian kami sudah berdiri di belakang sekolah. Kami saling terdiam. Setelah beberapa menit membisu, maka aku putuskan untuk memulai pembicaraan.
“So? Siapa cewek yang kamu suka?” tanyaku to the point.
“Ehm..kamu bilang duluan deh. Siapa cowok yang kamu suka?” tanya Daichi melempar pertanyaanku tadi.
Aku bingung. Mau bilang gak berani, tapi kalau gak bilang nanti dia gak tahu perasaanku sebenarnya. Kemudian aku keluarkan handphone. Aku mengutarakan perasaanku lewat pesan.
“Coba kamu lihat HP-mu,” perintahku.
Tanpa bertanya, Daichi langsung mengeluarkan handphonenya dan membaca pesanku.
“Hah? Kamu serius?” tanya Daichi terkejut. Aku hanya mengangguk.
“Jujur, sebenernya cewek yang aku suka itu kamu,” ungkap Daichi. Aku terpaku.
“Ehm, kamu mau jadi pacarku?” kata Daichi sekali lagi. Aku benar-benar terbius sekarang.
Aku senang, senang sekali. Ternyata cintaku terbalas. Tapi aku bingung harus berkata apa pada Daichi.
Setelah membuat Daichi menunggu untuk beberapa menit, maka aku segera mengambil keputusan.
“Iya,” jawabku.
“Serius?” tanya Daichi tidak percaya.
“Iya, Daichi.”
“Horee..!” Daichi terlonjak girang. Aku tertawa.
^^^^^^^^^^^
Perkenalkan, namaku Najika. Sekarang aku dalam misi ‘mempertahankan hubunganku dengan Daichi’. Yap, statusku bukan lagi jomblo. Aku sudah menjadi milik Daichi. He’s mine. Dan sekarang aku akan berpetualang lagi. Petualangan baru yang mungkin akan lebih menantang sudah di depan mata. Semangat!! J
^^^^^^^^^^^